Kisah Jembatan Gantung Cisanggiri yang Tak Kunjung Diperbaiki
Jembatan gantung Cisanggiri yang menghubungkan Dusun Cadas Bodas dan
dusun lainnya di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut,
Jawa Barat, hingga saat ini masih juga terputus. Padahal sebelumnya
Bupati Garut, Aceng HM Fikri, Selasa (17/1) lalu sudah meninjau langsung
lokasi jembatan ini.
"Ya, masih saja begini, anak-anak sekolah harus turun ke air untuk nyeberang sungai, padahal Pak Bupati sudah ke sini," ujar Yanto (36), warga setempat, Senin (23/1/2012).
Hari ini, warga secara bergotong royong membuat rakit dari bambu agar warga dan anak-anak sekolah bisa melintasi sungai dengan aman.
"Tapi kalau air sedang besar tetap saja berbahaya," keluhnya.
Sebelumnya Bupati Garut, Aceng HM Fikri, berjanji akan segera membangun kembali jembatan gantung Cisanggiri dengan anggaran sebesar Rp 200 juta. Namun soal kapan realisasinya, itu yang belum ada titik terang.
"Pokoknya tahun 2012 ini, akan saya bangun jembatan gantung dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya," kata Aceng mengumbar janji.
Jembatan gantung yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 100 cm tersebut ambruk akibat tertimpa pohon beringin yang tumbang diterjang angin puting beliung Senin 9 Januari 2011 lalu. Akibatnya, ratusan siswa terpaksa turun ke sungai dengan baju basah untuk berangkat ke sekolah. Warga yang akan bepergian keluar Dusun Cadas Bodas juga terpaksa menuruni sungai jika kondisi air dalam keadaan normal. (mok/mok)
Sumber
"Ya, masih saja begini, anak-anak sekolah harus turun ke air untuk nyeberang sungai, padahal Pak Bupati sudah ke sini," ujar Yanto (36), warga setempat, Senin (23/1/2012).
Hari ini, warga secara bergotong royong membuat rakit dari bambu agar warga dan anak-anak sekolah bisa melintasi sungai dengan aman.
"Tapi kalau air sedang besar tetap saja berbahaya," keluhnya.
Sebelumnya Bupati Garut, Aceng HM Fikri, berjanji akan segera membangun kembali jembatan gantung Cisanggiri dengan anggaran sebesar Rp 200 juta. Namun soal kapan realisasinya, itu yang belum ada titik terang.
"Pokoknya tahun 2012 ini, akan saya bangun jembatan gantung dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya," kata Aceng mengumbar janji.
Jembatan gantung yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 100 cm tersebut ambruk akibat tertimpa pohon beringin yang tumbang diterjang angin puting beliung Senin 9 Januari 2011 lalu. Akibatnya, ratusan siswa terpaksa turun ke sungai dengan baju basah untuk berangkat ke sekolah. Warga yang akan bepergian keluar Dusun Cadas Bodas juga terpaksa menuruni sungai jika kondisi air dalam keadaan normal. (mok/mok)
Sumber
Garut - Sejumlah siswa SMP Satu Atap 1 Cibalong terpaksa merayap di
dinding tebing macam cicak untuk bisa sampai ke sekolah. Padahal
sebelumnya sudah disediakan rakit bambu untuk penyeberangan pasca
terputusnya jembatan gantung Cisanggiri, Desa Mekarmukti, Kecamatan
Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Menurut salah seorang SMP, Rudi, hal itu dilakukan untuk menghindari agar sepatunya tidak basah saat naik rakit bambu, disamping pada saat hujan besar air meluap rakit tidak bisa dipergunakan.
"Ya, kalau air sungai meluap rakit nggak dipakai, terus kalau lewat tebing-tebing tadi sepatu nggak basah jadi belajarnya enak", ujarnya, Sabtu (28/1/2012), kepada wartawan.
Rudi bersama teman-temannya berharap Pemerintah segera membangun jembatan gantung yang baru, agar para siswa bisa dengan leluasa meyebrangi sungai Cisanggiri yang memiliki lebar sekitar 100 meter dan kedalaman air normal mencapai 1,5 meter.
"Kalau terus merayap di tebing, saya juga takut jatuh kecebur ke sungai Pak, jadi jembatannya kapan dibangun ", ungkapnya.
Sementara itu salah seorang guru di SMP Satu Atap 1 Cibalong, Pepen Purnama mengakui bahwa siswa SMP yang merupakan warga Dusun Cadas Bodas yang berjumlah 25 orang, sejak 3 minggu terakhir sering bolos belajar. Terutama pada saat cuaca sedang hujan.
"Tapi kami memaklumi, mereka nggak masuk sekolah karena air sungai meluap. Daripada menjadi korban, lebih baik mereka nggak sekolah," tandasnya. (gah/gah)
Sumber
Ambruknya jembatan gantung Cisanggiri akibat tertimpa pohon mengakibatkan 125 siswa sekolah SD dan SMP terganggu dalam melaksanakan kegiatan belajar. Para siswa bisa belajar pada saat ketinggian air sungai Cisanggiri dalam kondisi normal.
Kondisi tersebut akan mengundang reaksi simpati banyak pihak, baik masyarakat, media lokal, nasional maupun media asing.
“Jelas ini sangat memprihatinkan dan tentunya akan menjadi perhatian publik baik dalam negeri maupun luar negeri yang seakan-akan kami sebagai pemerintah tidak peduli,” ujar Bupati Garut, kepada wartawan, Selasa (24/1/2012).
Menurut salah seorang SMP, Rudi, hal itu dilakukan untuk menghindari agar sepatunya tidak basah saat naik rakit bambu, disamping pada saat hujan besar air meluap rakit tidak bisa dipergunakan.
"Ya, kalau air sungai meluap rakit nggak dipakai, terus kalau lewat tebing-tebing tadi sepatu nggak basah jadi belajarnya enak", ujarnya, Sabtu (28/1/2012), kepada wartawan.
Rudi bersama teman-temannya berharap Pemerintah segera membangun jembatan gantung yang baru, agar para siswa bisa dengan leluasa meyebrangi sungai Cisanggiri yang memiliki lebar sekitar 100 meter dan kedalaman air normal mencapai 1,5 meter.
"Kalau terus merayap di tebing, saya juga takut jatuh kecebur ke sungai Pak, jadi jembatannya kapan dibangun ", ungkapnya.
Sementara itu salah seorang guru di SMP Satu Atap 1 Cibalong, Pepen Purnama mengakui bahwa siswa SMP yang merupakan warga Dusun Cadas Bodas yang berjumlah 25 orang, sejak 3 minggu terakhir sering bolos belajar. Terutama pada saat cuaca sedang hujan.
"Tapi kami memaklumi, mereka nggak masuk sekolah karena air sungai meluap. Daripada menjadi korban, lebih baik mereka nggak sekolah," tandasnya. (gah/gah)
Sumber
Ambruknya jembatan gantung Cisanggiri akibat tertimpa pohon mengakibatkan 125 siswa sekolah SD dan SMP terganggu dalam melaksanakan kegiatan belajar. Para siswa bisa belajar pada saat ketinggian air sungai Cisanggiri dalam kondisi normal.
Kondisi tersebut akan mengundang reaksi simpati banyak pihak, baik masyarakat, media lokal, nasional maupun media asing.
“Jelas ini sangat memprihatinkan dan tentunya akan menjadi perhatian publik baik dalam negeri maupun luar negeri yang seakan-akan kami sebagai pemerintah tidak peduli,” ujar Bupati Garut, kepada wartawan, Selasa (24/1/2012).
Tiga pekan sudah warga Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 'menantang maut' melintasi Sungai Cisanggiri dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Mereka terpaksa menyeberangi sungai setelah jembatan Cadasbodas ambruk tertimpa pohon akibat diterjang angin puting beliung.
Ironisnya, hingga kini belum ada tanda-tanda pemerintah daerah setempat turun tangan untuk membangun kembali jembatan yang roboh, meski media telah memberitakannya secara luas.
"Kami mengharapkan pemerintah agar segera bangun jembatan karena warga sangat mengharapkannya sebagai akses jalan menyeberangi sungai," kata Ayi Supriatna (40) warga setempat, Kamis (26/1)
Ambruknya jembatan sejak tiga pekan lalu, kata Ayi warga terpaksa harus melintasi sungai dengan bantuan rakit bambu dan tali yang membentang sungai. Kadang rakit yang mereka tumpangi harus menempuh bahaya ketika tinggi air meningkat dan arus semakin deras. Warga yang menggunakan rakit ini juga banyak dari kalangan pelajar.
Rakit yang dibuat warga dan anggota TNI tersebut cukup membantu penyeberangan warga maupun anak sekolah dibandingkan sebelumnya harus turun ke sungai.
Meskipun ada rakit, ia berharap pemerintah tidak memperlambat janji akan membangun jembatan untuk akses penyeberangan sungai menghubungkan lima kampung menuju kota kecamatan.
"Bupati pernah datang kesini (ke lokasi jembatan ambruk) tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan membangun jembatan," katanya.
Sementara itu jembatan gantung terbuat dari bambu melintasi Sungai Cisanggiri yang ambruk tersebut menyebabkan warga di lima Kampung, yaitu Ciherang, Calincing, Babakan Jati, Cimidun dan Cadasbodas sempat terisolasi.
Sedangkan jalan lain untuk melintasi sungai jarak tempuhnya cukup jauh yang harus melewati perkebunan dan kawasan hutan sehingga banyak warga memilih bertahan di kampung atau memaksakan diri menyeberang dengan turun ke sungai.
Bahkan warga yang tinggal di lima kampung tersebut membuat kondisi ekonomi memprihatinkan karena warga tidak bisa menjual hasil pertanian maupun membeli berbagai kebutuhan dari pasar.
Sebelumnya, Bupati Garut, Aceng HM Fikri telah menjanjikan akan membangun jembatan tersebut dengan anggaran yang sudah disiapkan sebesar Rp200 juta dari APBD 2012.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar